Week of Disaster Journey (Prolog)

Cast

All Super Junior Member

All DB5K members

Ketika liburan Super Junior berubah menjadi bencana. Sebuah rahasia yang disimpan salah satu dari mereka akhirnya terkuak setelah kehadiran Kim Junsu, orang yang menjemput mereka.


 

PROLOG

Sepulangnya dari pertemuannya dengan manager hyung dan CEO SM, Leeteuk membawa kabar gembira bagi Super Junior…

“Aku pulaaaang!” sahut Leeteuk saat memasuki dorm yang disambut dengan tatapan Kau kenapa, hyung? dari para dongsaengdeulnya

“Apa?! Kita dapat jatah liburan seminggu?! Horeeeee!” seru EunHae sambil loncat-loncatan ga jelas, diikuti sorakan girang dari member lainnya.

“Bagaimana kalau kita berlibur bersama saja, hyung?” si pendiam Kibum angkat bicara. “Jarang sekali kan kita bisa keluar bersama-sama?”

“Tapi ke mana?” seru member yang lain.

“Bagaimana kalau ke Lotte Park?! Aku ingin bermain seharian di sana!” seru Donghae.

“Bagaimana kalau kita minum wine bersama-sama saja” seru magnae yang langsung mendapat jitakan dari roomatenya, Sungmin. “Yak hyung! Sakit!” keluhnya.

“Aku setuju sama usul Kyuhyun!” seru Kangin yang juga suka minum, tapi langsung mengkeret karena dihadiahi deathglare Leeteuk. “Terserah saja” sahutnya pundung.

“Sahabatku punya sebuah villa di Pulau Nami. Bagaimana kalau kita ke sana saja?” usul Siwon.

Leeteuk menatap member yang lain, “Bagaimana, memberdeul?”

“Sepertinya itu ide yang baik, hyung!” sahut Yesung.

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Kupikir juga itu bukan ide yang buruk, Teukie hyung!” sahut Sungmin.

“Aku sih terserah saja, asal aku bisa refreshing!” ujar Henry. “Yahooooo!” serunya.

Melihat semua setuju, Leeteuk langsung meminta Siwon untuk menyewa villa sahabatnya itu, yang segera langsung dilakukannya.

“Siwon, kau yakin kita akan di jemput di sini? Kau sudah tanya temanmu?”

“Sudah, Teukie hyung. Aku akan mencoba meneleponnya kembali.”

“Bagaimana?”

“Aneh hyung… Tak biasanya dia tidak menjawab teleponku.”

“Apa?! Bagaimana ini?”

“Permisi, ada yang bernama Mr Choi Siwon di sini? Saya Kim Junsu. Saya diminta Mr. Jung Yunho untuk menjemput anda dan teman-teman anda dan segera mengantarkan kalian ke villanya.”

“Ya, saya sendiri. Benarkah? Baiklah, saya akan panggilkan teman-teman saya.” sahut Siwon. “Teukie hyuuung, yang menjemput sudah dataaang!”

“Akhirnya waktunya telah tiba” gumam Junsu sambil sekilas tersenyum licik, dan tak ada yang memperhatikan itu selain sang Cinderella.

Advertisements

Super Junior – Dead At Heart (Lyric ~ Hangeul, Romanization, English)

Hangeul

정말 뭐한 건가요 길었던 한 해 동안
그댈 보내고 나니 어제까지의 나는 마치 죽어있던 것과 같네요

그렇게 길었던 시간 속엔 떠나간 당신밖에 없네요
그대 밖엔 아무런 생각하지 않은 채 이렇게 한 해가 지나가네요

*그댈 찾아갔던 어느 비 내리던 날의 기억 함께 걸어갔던 우릴 비춰주던 맑은 햇살
그 어느 하나도 나를 떠나지 않고 나의 머릿속에서 나를 죽어있게 해

친구들은 모두 어른이 되고 난 아직 철없는 아이처럼
그대밖에 아무런 생각하지 않은 채 마치 죽어 있던 것과 같네요

*그댈 찾아갔던 어느 비 내리던 날의 기억 함께 걸어갔던 우릴 비춰주던 맑은 햇살
그 어느 하나도 나를 떠나지 않고 나의 머릿속에서 나를 죽어있게 해

헤어짐을 깨닫지 못하는 난 아직도 우리 미랠 상상하고
헤어진 지금도 내 맘은 언제나 그대의 곁에서 살아있는 것처럼 죽어있는 거예요

*너를 사랑했던 순간 내가 멈춰 버린 거야 함께 있을 때도 너를 기억할 순 없을 거야
그 어느 하나도 내가 아니었다고 그렇게 생각하면 아무것도 아닌 걸
너를 잊지 못하면 내가 죽어있는 것

 

Romanization

jungmal mwuh han gun gayo gilutdun han heh dong an
geudel bonehgo nani uhjehggaji eh naneun machi jooguh itdun gutgwa gatneyo

geuluhkeh giluhtdun shigan soken dduhnagan dangshin bakkeh ubneyo
geudeh bakken amoolun senggak haji anneun cheh iluhkeh han hehga jina ganeyo

geudel chaja gatdun uhneu bi nehlidun nal eh giuk hamggeh guluh gatdun ooril bichwuh joodun malgeun hessal
geu uhneu hanado naleul dduhnaji annko nuh eh muhli sokehsuh naleul jooguh itgeh heh

chingoo deuleun modoo uhleuni dwego nan ajik chulubneun a i churum
geudeh bakkeh amoolun senggak haji anneun cheh machi jooguh itdun gutgwa gatneyo

geudel chaja gatdun uhneu bi nehlidun nal eh giuk hamggeh guluh gatdun ooril bichwuh joodun malgeun hessal
geu uhneu hanado naleul dduhnaji annko nuh eh muhli sokehsuh naleul jooguh itgeh heh

heh uhjimeul ggehdatji mot haneun nan ajikdo oori milel sangsang hago
heh uhjin jigeumdo neh mameun unjena geudeh eh gyuttehsuh sala itneun gut churum jooguh itneun guh eyo

nuhleul sarang hetdun soon gan mumchwuh buhlin guhya
hamggeh isseul ddehdo nuhleul giukhal soon ubsseul guhya
geu uhneu hanado nega ani utdago geuluhkeh senggak hamyun amoo gutdo anin gul
nuleul itji mot hamyun nega jooguh itneun gut

 

English

Really, what did you do during this year, love?
After letting you go
I felt like I was going to go crazy and dead
Up until yesterday

In that long period of time
There’s only you who left me
Having no other thoughts but of you
That’s how this year is passing by

The memories of that rainy day
When I went to go find you
The clear sunshine that shined down on us when we walked together
None of these have left me
Inside my head
It makes me slowly die

All of my friends have become adults
But me
Still like an immature child
Having no other thoughts but of you
It’s just like being dead

The memories of that rainy day when I went to go find you
The clear sunshine that shined down on us when we walked together
None of these have left me
Inside my head
It makes me slowly die

I can’t understand our breakup
Even now I imagine our future
Even after our breakup
Just like how my heart is always living by your side
It’s as if it’s dead

I stop the moments that I loved you
Even when we’re together
I won’t be able to remember you
If I just think that I wasn’t any of these
Then it’s nothing
If I can’t forget you
It’s as if i’m dead

U & I

Cast:
Sungmin
Ryeowook
Author (PLAKK!)

Kim Yeosoo adalah yeosaeng dari Kim Sungmin, dan Ryeowook adalah teman mereka dari kecil. Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Sungmin menyukai Yeosoo dan Ryeowook pun menyukai Yeosoo. Akhirnya sebuah ingatan Yeosoo yang terlupakan kembali muncul. Siapakah yang Yeosoo pilih? Sungmin? atau Ryeowook? atau tidak keduanya?

Genre: Romance, Friendship


Aku merebahkan diriku di atas kasur. ‘Lelahnya hari ini…’ gumamku pada diriku sendiri. Memang seharian ini aku cukup sibuk dengan menemani Wookie mengunjungi perpustakaan-perpustakaan di Seoul.

Kau ini memang benar-benar menyebalkan ya!Saat kuajak mengerjakan skripsi bersama-sama, atau mencari bahannya bersama-sama, kau selalu menolak… Tapi saat deadline tinggal dua minggu, kau pasti mencari-cariku untuk menemanimu mencari bahan untuk skripsimu.” kataku kesal.

Wookie mencibir. “Ya,aku tau… Skripsimu memang sudah disetujui. Kalau memang kau tidak berniat menemaniku mencari bahan di perpustakaan, ya sudah… Lebih baik kau pulang saja… Aku tak apa mencari bahan-bahan itu sendirian…”

Yah, terserah kau saja.” kataku menyerah, sementara Wookie tersenyum kecil. Dia memang tau kalauaku tidak bakalan benar-benar pergi walaupun dari perkataanku tersirat sebaliknya.

Aku jadi tersenyum mengingat itu. Aku tidak heran kalau dalam waktu seminggu dari sekarang, skripsi Wookie selesai dan langsung di-approve dosen pembimbingnya. Dia memang pintar. IQ-nya diatas rata-rata. Aku juga bingung. Padahal Wookie dan aku bersahabat sejak kecil, tapi entah kenapa, kepintaran Wookie tidak sedikitpun menulariku. ‘Oh ya, Wookie lagi apa ya sekarang?’ gumamku lagi.

Tiba-tiba terdengar alunan musik dari ponselku. “Yeoboseo… Kenapa lagi, Wookie?”

“Hehehe! Aku lapar, Yeosoo! Apa di tempatmu ada makanan?”

“Kenapa, Wookie? Kau malas masak lagi?”

“Hehe! Iya, Yeosoo! Boleh ya?”

“Nanti dulu, aku tanyakan Mr Pink!” kataku seraya keluar dari kamar dan menghampiri Sungmin Oppa, yang biasa aku dan Wookie panggil “Mr Pink” – karena kecintaan dia sama warna pink (lagian, Sungmin Oppa juga tidak masalah dipanggil Mr Pink). “Mr Pink, Wookie tanya, apa dia boleh makan di sini lagi?”

“Dia malas masak lagi?” tanya Sungmin Oppa.

Aku hanya mengangguk. “Seperti biasa…”

“Ya sudah! Lagian, bagus juga, jadi aku tak perlu mencuci piring kalau dia ikut makan.” ujar Sungmin sambil tersenyum.

Aku pun beralih ke Wookie. “Kata Mr Pink, ‘oke’. Asalkan kau yang mencuci piring.”

Terdengar hela nafas. “Kau mau tidak?” tanyaku.

“Ne!” sahutnya. “Araso. Aku ke sana!”

Tanpa sadar, aku tersenyum lebar. “Sepertinya kau senang sekali kalau Wookie ke sini!” ledek Sungmin.

“Biasa saja! Kan aku bisa minta tolong dia membantuku mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Dasar! Ternyata kau sama saja, memanfaatkan dia.” sahut Sungmin. “Tapi kurasa tidak cuma itu. Kau menyukai dia, kan?”

Aku bingung mau menjawab apa. Aku terdiam. ‘Mungkinkah aku menyukai Wookie?’ Sementara aku berpikir, bunyi bel apartemenku menyelamatkanku dari pertanyaan Sungmin. “Tuh dia datang!” sahutku. “Cepat juga.”

“Ya iyalah! Kau ini babo ya? Kan dia tinggal di apartemen di sebelah!” sahut Sungmin. “Masuk saja! Tidak dikunci!”

“Annyong, Yeosoo, Mr Pink!”

“Tidak usah pakai basa-basi yang basi! Ayo makan!” ajak Sungmin Oppa.

Senyum Wookie makin merekah. Dia terlihat tampan kalau lagi senyum. ‘Ups! Yeosoo! Apa maksudmu? Kan dia cuma sahabat kamu saja! “Kalian makan duluan saja ya! Aku mau mandi dulu!” sahutku.

“Aneh! Tidak biasanya mandi malam!” kata Sungmin Oppa.

“Kan kotor, habis dari luar tadi!” kataku.

“Tumben…” kata Sungmin Oppa. “Ya sudah. Kajja, Wookie!”

Sementara mandi aku memikirkan kata-kata Sungmin Oppa barusan. ‘Apa iya aku menyukainya? Kalo emang ga, kenapa tadi aku merasa dia ganteng ya? Ah bingung! Aku membasuh wajahku – cara yang konyol untuk mengalihkan perhatian. Tetap saja aku masih memikirkan Wookie. Aneh.

“Yahh, Kim Yeosoo! Kau lama sekali mandinya!” terdengar suara Sungmin Oppa dari luar.

Aku segera keluar. “Yah, Oppa! Ada apa? Kenapa kau berteriak?”

“Biasa saja!” sahut Sungmin Oppa. “Oh ya, kau ditunggu Wookie.”

“Maksudmu?”

“Kau cari tahu sendiri sajalah! Dia sedang di ruang tamu!”

Aku benar-benar bingung dengan Sungmin Oppa. Apa maksudnya? Aneh! “Ada apa, Wookie?” tanyaku.

“Kau … ada waktu malam ini?”

Jantungku langsung berdebar. ‘Apa maksudnya? Jangan-jangan, dia mau menyatakan cintanya! Aduh! Padahal aku sendiri saja masih bingung dengan perasaanku!‘ “Buat apa?” tanyaku, berusaha menyembunyikan rasa deg-degan.

“Kalau begitu, cepatlah siap-siap! Ku tunggu 5 menit lagi! Tidak pakai lama ya!” kata Wookie sambil mendorongku ke kamar.

Setelah ganti baju, aku segera menghampiri Wookie. “Aku siap!”

“Ok. Kajja!” sahut Wookie. “Mr Pink, apa kau yakin kau tidak mau ikut?”

“Ani! Kau kira, mahasiswa sepertimu dan Yeosoo saja yang punya PR? Karyawan sepertiku juga tau! Aku masih banyak kerjaan! Oh ya, jangan pulang terlalu malam!”

“Ne!” kataku dan Wookie.

“Kenapa kau mengajakku ke kafe? Kau kan sudah makan tadi.”

“Yak, Yeosoo! Cepat, kau mau pesan apa? Kan kasihan waiternya.” kata Wookie. “Saya minta 1 Jus Strawberry.”

“Kalo saya sama. Jus Strawberry.”

“Jadi Jus 2 Strawberry. Mau pesan yang lain?” tanya si waiter.

“Cukup. Itu saja.” kata Wookie.

“Ok. Ditunggu sebentar ya.” kata si waiter sambil berjalan pergi.

“Kau aneh, Wookie.” kataku. “Sekarang, langsung saja. Ada apa kau mengajakku ke sini?”

Wookie terdiam. Kepalanya tertunduk. Aku makin bingung. “Ada apa, Wookie? Kenapa kau jadi seperti ini?”

“UAS sudah selesai. Kita tinggal menyerahkan tugas-tugas untuk melengkapi nilai. Sidang skripsi juga sudah selesai. Kita tinggal mengumpulkan skripsi yang sudah kita revisi. Tidak terasa, sebentar lagi kita lulus.”

“Iya… Padahal rasanya baru kemarin kita kuliah hari pertama.” jawabku setuju. “Tapi tunggu dulu, apa maksudmu?”

“Aku memang tidak bisa menutupi apapun darimu ya…” katanya seraya terdiam sejenak. “Sebenarnya, aku tidak bakal ikut wisuda.”

“Mwo? Maksudmu?”

“Appa memanggilku untuk membantunya di perusahaan.”

“Jadi maksudmu, kau akan…”

“Iya, Yeosoo. Aku akan pindah ke New Zealand.”

“Tapi, kau pasti akan main ke sini lagi kan?”

“I’m afraid I can’t, Yeosoo.”

Kepalaku tertunduk. “Kira-kira, berapa lama lagi, Wookie?”

“Tiga hari lagi aku akan berangkat. Karena itu, malam ini aku harus menyelesaikan revisi skripsiku.”

“Kenapa kau baru bilang sekarang, sih?”

“Mian, Yeosoo. Mian, aku tak bisa menjagamu lagi. Tapi kau kan masih punya Mr Pink. Walaupun galak, dia sebenarnya sangat perhatian kepadamu.”

“Ya iyalah… Dia kan oppaku!”

Wookie menggeleng. “Aniyo, Yeosoo.” katanya. “Ne, memang bisa dibilang dia oppamu. Tapi bukan sedarah maksudku.”

“Maksudmu?” tanyaku kaget.

“Lho? Bukannya kau tahu soal itu? Bukankah kau tau, Sungmin Hyung sebenarnya hanya anak adopsi dari orangtuamu?”

Aku berdiri. “Aku mau pulang. Aku tidak mengerti apa maksudmu!”

Wookie menahanku. “Kan kau tau, Sungmin Hyung sebenarnya diadopsi sama orangtuamu sebagai anak pancingan, karena orangtuamu ingin punya anak.” katanya. “Apa kau tak ingat sedikitpun tentang itu?”

Aku merasa dibohongi. “Ingat apa? Dan kenapa kau baru bilang sekarang? Kenapa kau tidak memberitauku dari dulu?”

“Rupanya kecelakaan dulu memang membuatmu lupa tentang ini.” kata Wookie. “Aku dilarang Sungmin Hyung untuk memberitahumu soal ini. Dia bilang, dia selamanya mau menjagamu. Tapi kalau kau sampai teringat tentang kenyataan ini, dia takut kau akan pergi meninggalkan dia.”

“Tapi kenapa?”

“Dia menyayangimu, Yeosoo. Bukan rasa sayang antara Oppa ke yeosaengnya. Tapi dia sayang dan cinta sama kamu. Karena itu dia mau terus mendampingimu walaupun orangtuamu sudah tidak ada.”

Aku terdiam. Aku jadi teringat, setiap malam selalu datang ke kamarku, memandangiku sambil tersenyum dan menyelimutiku. Aku tau dia selalu melakukan itu setiap malam, karena setiap kali dia masuk, aku selalu pura-pura sudah tertidur. Aku jadi teringat akan pertanyaan dia tadi sebelum Wookie datang. Sepertinya kau senang sekali kalau Wookie ke sini! Kau menyukainya, kan?”Mungkinkah kata-kata Wookie benar?

Aku menatap wajah Wookie. Tidak. Wajahnya menyiratkan kalau dia serius. Dan Wookie tidak pernah bohong, terutama di saat dia lagi serius membahas sesuatu. ‘Apa aku menyukai Wookie, ataukah sebenarnya yang kusukai selama ini Sungmin Oppa? Aku memang nyaman dengan Wookie. Tapi kalau di dekat Sungmin Oppa, aku lebih tenang. Mungkinkah aku menyukai Sungmin? Atau Wookie? Aku bingung!

“Tadi, Sungmin Hyung bilang kalo dia merasa kau menyukaiku. Sebenarnya, dia melarangku pergi, Yeosoo. Dia bilang, kalau akhirnya kau bisa menemukan tambatan hatimu, dia bisa pergi dengan tenang pergi darimu. Tapi, entah kenapa, aku merasa kau menyukainya.” ucap Wookie serius. “Ya aku akui, aku memang menyukaimu… Tapi, aku merasa kalau selama ini kau hanya memperlakukanku seperti sahabat dan saudara…”

Sejujurnya aku terhenyak mendengar kata-kata Wookie barusan. Jadi sebenarnya dia juga menyukaiku. Aku menatapnya. “Bagaimana kalau sekarang kukatakan kepadamu kalau aku memang menyukaimu?”
Wookie tersenyum penuh arti. “Aku hanya bisa bilang, tanya hatimu lebih dulu. Siapa sebenarnya yang kau sukai.” katanya seraya menyodorkan sebuah amplop coklat. “Kau pasti punya passport kan?”

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu apa? Terus, apa ini?”

“Ini tiket ke New Zealand atas namamu.” katanya. “Sekali lagi kuminta, tanyalah hatimu dulu. Kalau memang hatimu memang untukku, ikutlah denganku ke New Zealand.”

Aku menerima dan menatap amplop itu. “Oke. Aku akan mengikutimu ke New Zealand.”

“Kuminta jangan memaksakan dirimu, Yeosoo. Kau belum menanyakan hatimu, siapa yang sebenarnya kau cintai.” katanya sambil tersenyum. “Sungmin Hyung sudah tau soal ini. Dia bahkan menawarkan diri untuk mengemasi barang-barangmu. Dia bersikap seolah siap merelakanmu menjadi milikku. Tapi aku tau, di dalam lubuk hatinya, dia tidak rela melepaskanmu.”

“Dari mana kau tau?”

“Yeosoo… Aku yakin kau mengerti apa maksudku… Sungmin Hyung bukan orang yang pintar menutupi perasaannya… Aku yakin, tanpa dia sadari, dari sikapnya, dia sudah menunjukkan kepadamu kalau sebenarnya dia menyayangimu.” ucap Wookie. “Oke. Sudah jam 10. Aku janji sama Sungmin Hyung kalau kita akan pulang sebelum jam 11. Yuk, balik!”

“Gomawo… Kau sudah mau menemaniku malam ini.” kata Wookie. “Aku senang sekali bisa menghabiskan hari ini bersamamu. Oh ya, 3 hari lagi jam 12 siang, kutunggu kau di bandara. Jangan terlambat ya.” ucapnya seraya mengecup lembut dahiku, lalu berbisik, “Sekali lagi kuminta, tanya dulu apa kata hatimu. Dan jangan terlalu memaksakan diri.”

Aku mengangguk. “Makasih ya, sudah mentraktirku.”

Wookie mengangguk sambil tersenyum. “Oke. Cepatlah masuk. Kau tak mau Mr Pink mengkhawatirkanmu, bukan?” katanya.

Aku pun masuk ke dalam apartemenku. “Mr Pink, aku pulang!” sahutku.

Aneh! Kenapa Sungmin Oppa tidak menjawab ya? Aku pun mencarinya, dan aku menemukan dia sedang duduk di meja makan. “Hoi, Mr Pink! Waeyo? Kenapa kau tak menyambutku pulang seperti biasa?”

“Kau ini sudah besar, Kim Yeosoo! Masa aku harus menyambutmu seperti menyambut anak SD? Aneh!” jawab Sungmin Oppa dengan nada dingin.

“Sepertinya kau yang aneh, Oppa. Kurasa, tadi sebelum aku pergi bersama Wookie, kau masih baik-baik saja. Kenapa sekarang begini?”

“Itu urusanku… Ya sudah. Kau sudah pulang kan? Aku tidur duluan ya.” katanya sambil berjalan menuju kamar.

Entah kenapa, aku merasa sedih karena perubahan sikap Sungmin Oppa. Aku pun menyusulnya ke kamarnya. “Oppa, kau sudah tidur?”

“Wae?”

“Tadi Wookie menyatakan perasaannya kepadaku. Dia memberiku tiket ke New Zealand. Katanya, kalau aku menerimanya, aku harus ikut tinggal bersamanya di sana. Menurutmu bagaimana?”

“Kau bukan anak SD yang harus kuatur kan? Kalau memang itu yang terbaik menurutmu, ikutlah dengannya tinggal di sana.”

“Tapi, kalau aku pergi, kau bagaimana?”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Yeosoo. Sudah ya. Besok aku harus berangkat pagi. Aku mau tidur.”

“Ya sudah.” kataku lesu. Aku sedih dia seperti ini. ‘Tapi kenapa perasaanku seperti ini ya? Aku sendiri masih bingung.

Aku benar-benar suntuk. Aku pun mengambil jaketku dan kunci mobilku, lalu menuliskan pesan singkat dan menempelkannya di kulkas.

“Yak! Kenapa kau memanggilku ke sini?” tanya Wookie.

“Gwenchana… memangnya salah ya kalau aku minta tolong kau menemaniku di sini?”

“Tidak salah sih. Oh ya, kau dicari Sungmin Hyung tuh.”

“Tapi kau tidak bilang aku di sini, kan?”

Wookie tersenyum. “Ani. Tenang saja…” katanya. “Tapi, kurasa kau lagi sakit hati sama Sungmin Hyung deh. Waeyo?”

Pertanyaan Wookie malah membuat mataku jadi berkaca-kaca. “Ani. Gwenchana…”

Wookie memelukku. “Walaupun kau bilang tidak ada apa-apa, tapi itu tidak selalu berarti tidak ada apa-apa.” katanya. “Kalau memang kau tak bisa cerita sekarang, tidak apa-apa. Yang penting kau tenangkan dirimu dulu. Ok?”

Aku mengangguk cepat. Air mata yang tadinya tertahan pun mengalir. Sejujurnya, aku sedih sekali karena Sungmin Oppa bersikap dingin. Kini kurasakan tangan Wookie memelukku erat. Dia pasti sedih melihatku begini. ‘Mian, Wookie. Kau selalu susah karena aku. Aku melepaskan pelukannya. “Aku sudah memutuskan. Aku akan mengikutimu ke New Zealand.”

Wookie menyeka air mata yang masih menggenang di wajahku. “Jangan terlalu memaksakan diri. Aku memang senang kalau kau memilihku. Tapi aku tidak senang kalau kau memilihku tapi membohongi perasaanmu sendiri.”

“Ani. Aku tidak akan menyesal.”

Wookie memelukku lagi. “Kau masih punya waktu banyak untuk berpikir. Dan aku tidak mau menerima keputusanmu sekarang. Tanya hatimu, siapa yang benar-benar kau sayang…”

“Aku bingung, Wookie… Aku bingung sama perasaanku sendiri… Aku tidak mau menyakiti salah satu dari kau atau Sungmin Oppa. Aku menyayangi kalian berdua.”

“Dalam hidup, tidak selamanya kita menyenangkan semua orang. Akan ada saatnya kita mengecewakan. Kau harus bisa milih antara aku atau Sungmin Hyung. Tapi tenang saja, apapun keputusanmu, kita masih tetap teman. Araso?”

Aku mengangguk setuju. Aku yakin mengatakan kata-kata barusan, pasti juga menyakiti perasaannya. “Iya deh. Seperti katamu saja.”

“Mr Pink, aku pulang!”

“Kau masih ingat punya rumah? Kenapa kemarin tidak sekalian saja kau pergi? Sudah pergi seharian, apa masih kurang, jadi baru balik jam segini!”

“Bukannya ini bukan urusanmu?” tanyaku.

Sungmin Oppa terdiam. “Araso. Sekarang kita urus saja urusan masing-masing.”

“Ne. Aku setuju.” jawabku seraya berjalan ke kamarku. “Oh ya, 2 hari lagi aku akan berangkat ke New Zealand. Jadi, jaga dirimu baik-baik ya.” sahutku sementara masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu. Aku yakin itu Sungmin Oppa.

Hhh… Kenapa mesti begini sih? Kenapa juga aku harus bertengkar dengannya?‘ Aku merasa tidak tenang. Aku pun pergi menuju kamarnya lalu mengetuk pintu kamarnya. “Oppa, aku masuk ya.”

Tidak ada jawaban. Aku pun membuka pintu kamarnya. Aku melihatnya berbaring di tempat tidurnya. Aku mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidurnya. “Oppa, aku… kurasa, kata-kataku barusan itu kasar… mianhe…”

Hening. Aku sendiri bingung harus ngomong apa lagi. “Ya sudah. Aku mau packing dulu.” kataku, seraya beranjak kembali ke kamarku.

Tiba-tiba, aku merasa tanganku dipegang. Aku menoleh. “Wae Oppa…”

Sungmin Oppa tiba-tiba menarikku dan memelukku erat. Aku merasakan air matanya mengalir di bahuku. “Kalau kuminta kau jangan pergi, apakah kau akan tetap pergi?” tanyanya.

“Oppa…”

“Tolong, jangan pergi. Kuminta, kau jangan pergi.”

Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Menangis di pelukanku. Biasanya, dia memelukku kalo aku yang sedih. Tapi, entah kenapa, aku tidak tega melihatnya seperti ini. “Oppa, kumohon, tolong jangan menangis. Aku tak bisa melihatmu seperti ini.”

“Kuminta kau jangan pergi, Yeosoo. Tolonglah…”

“Tapi Oppa…”

“Kumohon…”

“Oppa, kenapa kau seperti ini?”

“Aku janji, aku akan terus menjagamu… Tolonglah, kumohon kau jangan pergi…”

“Mianhe, Oppa… Tapi,…”

Tiba-tiba saja Sungmin melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya. “Kau tidak harus mengikuti permintaanku. Aku tau, kau sudah berjanji pada Wookie untuk pergi bersamanya. Aku hanya minta agar kau bahagia bersamanya, ya?”

“Oppa… Gwenchanayo?”

Sungmin Oppa tersenyum. “Gwenchana…”

“Jinja?”

“Ne…gwenchana…” Sungmin mengangguk cepat. “Mau kubantu packing?”

“Nanti saja…” sahutku.

“Mwo? Wae?”

Aku menggandengnya dan menariknya. “Aku lapar. Kita makan yuk!”
***
“Bukannya kau bilang kau lapar? Kenapa kita ke sini?” tanya Sungmin Oppa karena aku memberhentikan mobilku di tepi pantai.

“Itu juga restoran kan?” tanyaku sambil menunjuk ke arah tempat makan di tepi pantai. “Biar sekalian bisa lihat pemandangan.”

“Ooo…”

“Wae? Kau tak suka?”

Sungmin Oppa menggeleng. “Ani. Aku suka. Tumben saja kau mau makan di sini.”

Aku tau maksud perkataannya itu. Letak pantai cukup jauh dari apartemen kami. Dia pasti tau kalo aku tidak hanya ingin makan. Dia tau aku punya maksud lain. Aku pun merangkulnya. “Kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua, Oppa. Makanya, sebelum aku pergi aku ingin kita jalan berdua saja. Kaja!” kataku sambil menarik tangannya. “Aku yang traktir!”

Sungmin Oppa menatapku. “Kau yakin, kau akan bahagia di sana?”

“Maksudmu?”

Sungmin Oppa menggelengkan kepalanya. “Ah… ani… aku tak ada maksud apa-apa.”

Kami berdua duduk di sebuah gazebo dan memesan makanan. “Pantainya bagus ya?” kataku.

Sungmin hanya mengangguk sambil melemparkan senyum hangatnya. “Ne… bagus…”

“Mr Pink, sejujurnya, kurasa kalau aku pergi, kau yang tak akan bahagia.”

Sungmin Oppa menggeleng cepat. “Ani, Yeosoo. Tenang saja. Aku hanya takut kau tak bisa menyesuaikan diri di sana. Kan musim di sana beda dengan di sini. Nanti kalau kau sakit, bagaimana? Itu yang kutakutkan.”

“Aku masih punya Wookie, Oppa.”

“Ne. Aku yakin, dia pasti akan menjagamu terus.”

“Kalau kau?”

Sungmin Oppa mengernyit bingung. “Maksudmu?”

“Ne… kalau kau jadi Wookie, kau akan menjagaku, kan?”

“Ya iyalah, Yeosoo. Kan aku menyayangimu…” ujar Sungmin Oppa yang tiba-tiba keceplosan mengakui perasaannya. Pancinganku berhasil. “Ups… maksudku, kan kita kakak-adik… ya, aku menyayangimu sebagai adik.”

Aku meletakkan telunjukku di bibir tipisnya. Lalu berbisik di telinganya, “Sst… Kau tak usah bicara apa-apa lagi.”

“Tapi…”

Aku memberanikan diriku. Kupejamkan mataku, lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku memeluknya erat. “Kenapa kau tak pernah bilang soal ini, Oppa?”

Sungmin Oppa terdiam. Sepertinya dia cukup terkejut dengan ciuman tadi. “Yeosoo…”

“Dan bodohnya aku, aku tak menyadari semua ini sampai Wookie yang cerita.”

“Wookie? Koq dia tau?”

Aku mencubit kedua pipi Mr Pink yang memang berwarna pink. “Taukah kau? Kau itu gampang ditebak. Tapi, itulah yang membuatku menyukaimu.”

Mr Pink mendorongku. Aku jadi bingung. “Waeyo, Oppa?”

“Kita kan…”

“Saudara? Ne… Kau sudah kuanggap sebagai Oppaku sendiri. Tapi kita bukan saudara kandung. Jadi, tak apa-apa kan kalau aku menyukaimu?” tanyaku sambil memeluknya erat.

“Koq kau tau kalau kita bukan saudara kandung?”

“Sebenarnya aku sudah lama tau, tapi aku sudah lama melupakan itu krn kecelakaan yg kualami 3 tahun lalu yg membuat beberapa ingatanku hilang. Terus, tiba-tiba Wookie cerita soal itu. Aku jadi teringat lagi.” kataku. “Jadi gimana?”

Sungmin Oppa melepaskan pelukannya. “Now I wanna ask you something…”

“What’s that?”

“Would you be mine, for now and forever?”

“It’s a hard question… hmm… gimana ya?”

Sungmin Oppa menatapku dengan tatapan memelas. Aku pun tertawa. “Bagaimana kalau kujawab dengan ini…” tanyaku seraya menciumnya lagi, lalu berlari menghindarinya.

“Yah, Kim Yeosoo! Kau ini…”

“Ayo tangkap aku!” godaku.

“Awas kau ya! Kalau sampai tertangkap, takkan kulepaskan.” ujar Sungmin Oppa sambil mengejarku hingga akhirnya aku tertangkap. “Nah, akhirnya kau tertangkap! Kau takkan kulepaskan.” katanya sambil memelukku erat.

“Bener, ya… Janji?”

Sungmin Oppa mengecup lembut keningku. “I won’t ever let you go. I hope you won’t regret that you will always stuck with me.”

Aku menggeleng pelan sambil balas memeluknya erat. “I won’t be regret of knowing that you’re mine.” bisikku.

“Gomawo, chagiya…” katanya. “Oh ya, gimana sama Wookie?”

“Maksudmu siapa? Aku?” tiba-tiba terdengar suara Wookie.

Kami berdua menoleh ke asal suara itu. “Wookie…”

Wookie mengacak-acak rambutku. “Aku takkan apa-apa, Yeosoo. Aku memang kecewa saat menyadari kalau yang sebenarnya kau sayang itu Sungmin Hyung, tapi aku akan lebih menyesal lagi kalau kau harus memaksakan perasaanmu kepadaku saat kau akhirnya menyadari siapa yang kau sayang.” katanya sambil tersenyum.

“Tapi kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku.

“Tadi sebenarnya aku mau menemuimu untuk menemaniku makan siang. Tapi saat aku keluar apartemen, kulihat kalian berdua keluar dari apartemen. Ya sudah kuikuti saja.” katanya.

“Jadi dari tadi kau menguping?” tanya Sungmin Oppa.

“Ya, bisa dibilang begitu, Mr Pink.”

Sungmin Oppa menjitak kepala Wookie. “Dasar kau!”

“Gomawo, Wookie. Karena kau tak membiarkanku terburu-buru memutuskan untuk ikut bersamamu.”

“Karena ini aku selalu bilang padamu, tanya hatimu, siapa yang sebenarnya kau suka. Aku tau yang kau sayang cuma Sungmin Hyung, bukan aku.”

Aku memeluk Wookie. “Thanks for being good friend for me.”

“You’re welcome.” kata Wookie. “Tapi…”

“Tapi kenapa, Wookie?”

“Lepaskan pelukanmu, Yeosoo. Jebal.” kata Wookie menatapku sambil terlihat meringis. “Sungmin Hyung sudah memberiku deathglare nih soalnya.”

“Ups! Mian! Aku lupa kalau sekarang aku sudah punya namja chingu.”

“Yak, Wookie! Lepaskan yeoja chinguku!” omel Mr Pink sambil mengejarnya.

Wookie menarik tanganku. “Ayo kabur, Yeosoo! Walaupun tampangnya cute dan penyuka warna pink, tapi kan dia juga selalu latihan Martial Art bareng Hankyung Seonsaeng-nim.” kata Wookie sambil berlari.

Iya juga sih. Aku paham. Penyakit usilnya kumat. Jadinya, kami berdua berlari sambil berpegangan tangan, sambil dikejar-kejar Sungmin yang ternyata cemburuan. Tapi kalau sampai tertangkap, bisa gawat juga. “Kaja!” sahutku pada Wookie. Hehehe! Penyakit usilku juga jadi kambuh. Karena itu, aku merangkul Wookie sementara kami lari dari Sungmin Oppa.

“Yak, Kim Yeosoo! Kim Ryeowook! Jangan kabur kalian!” teriak Sungmin.

“Saranghae, Oppa!” sahutku, masih sambil menggandeng tangan Wookie.

 

~~ The End ~~

Believe

Cast:
Sakura
Super Junior
Jaejoong

Sungmin secara tidak sengaja menabrak salah satu ELF, dan mengakibatkan dia jadi amnesia sementara.

Ternyata sebuah rahasia terkuak, membuat Super Junior mengadakan konser rahasia dengan formasi lengkap: 13+2.

___________________________________________________

Sakura pov

Entah kenapa, kepalaku terasa sakit sekali. Aku mencoba membuka mataku, perlahan namun pasti, cahaya mulai masuk ke dalam mataku. Penglihatanku yang buram samar-samar menjadi lebih jelas. Kulayangkan tatapanku ke sekeliling ruangan. Aku ada di mana?

“Eh, kau sudah sadar?”

Kulihat seorang namja tampan datang mendekati tempat tidurku. “Aku … ada di mana?” tanyaku pada namja itu. “Dan … kau siapa?”

“Kau sedang ada di rumah sakit sekarang.” kata namja aegyo itu sambil kembali tersenyum hangat. “Choneun Lee Sungmin imnida… nuguseyo?”

Aku terdiam. Namja aegyo yang bernama Sungmin itu menanyakan namaku. Aku jadi teringat, siapa namaku ya? Aku mencoba mengingatnya.

“Namamu siapa?”

“Namaku…”

“Nugu?”

Aku bingung, aku bahkan tidak ingat siapa namaku. Aku mencoba mengingatnya, tapi itu membuat kepalaku sakit sekali. Air mataku perlahan mengalir. Sungmin menghampiriku, dan menyeka air mataku. “Waeyo?”

“Aku… aku… aku sama sekali tidak ingat!” jawabku frustrasi sambil menundukkan kepalaku dan menangis.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat memelukku. Itu Sungmin. “Gwenchana… kalau memang kau tak bisa mengingatnya.” katanya, berusaha menenangkanku.

“Hyung, ada apa? Apa yang kau lakukan sampai dia menangis?” tanya seorang namja imut yang tiba-tiba muncul.

“Wookie-ah, kau datang.” kata Sungmin. “Dia tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan namanya pun dia tidak tau.”

“Ternyata benar kata Jaejoong Uisangnim.” kata namja yang bernama Wookie itu.

“Eh? Apa yang dia bilang soal yeoja ini?” tanya Sungmin.

“Dia menderita amnesia sementara. Benturan dikepalanya akibat kecelakaan kemarin sepertinya cukup keras.” jawab Wookie. “Tapi ingatannya akan segera kembali.”

Aku terdiam. “Memangnya apa yang terjadi kemarin?” tanyaku pada Sungmin dan Wookie.

Sungmin tertunduk. “Kemarin aku… aku tak sengaja menabrakmu saat kau sedang menyeberang jalan.” jawabnya. “Mianhae…”

“Jadi maksudmu…”

“Ne… kau seperti ini sekarang karena aku…” jawabnya.

“Dan sekarang, aku bahkan tidak tau namaku sendiri! Ini semua gara-gara kau!” kataku frustrasi sambil menangis.

Wookie menghampiriku dan memelukku. “Maafkanlah dia, jebal…” kata Wookie. “Dia benar-benar tidak bermaksud menabrakmu… dia merasa sangat menyesal… apalagi saat dia tau kau seorang ELF.”

“Jadi maksudmu aku seorang peri?” tanyaku pada Wookie sambil melepas paksa pelukannya. “Kau itu lucu sekali… tapi kalau kau berkata itu hanya untuk menghiburku, kau salah.”

“Maksudnya ELF itu adalah EverLasting Friends.” jelas seorang namja yang setampan malaikat yang tiba-tiba muncul. “Apa kau tak tau kami ini siapa?”

“Jungsoo hyung, kau datang?” sahut Wookie dan Sungmin.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya namja yang dipanggil Jungsoo itu padaku.

Aku hanya diam menatap kosong ke arahnya. “Bagaimana keadaannya, Minnie?”

“Dia… hilang ingatan gara-gara aku…” jawab Sungmin. Tersirat jelas penyesalan dari raut wajahnya. Air matanya mengalir. “Kita harusnya pahlawan bagi ELF kan, hyung? Tapi aku justru mencelakai salah satu ELF!”

Jungsoo langsung memeluknya. “Sudahlah. Kau kemarin memang kelelahan setelah dari Sukira… kenapa kau tak ijinkan Wookie yang menyetir?”

“Mianhae, hyung.” jawab Sungmin.

“Gwenchana…” jawab Jungsoo bijak, sementara menatapku sedih. “Wookie, apa kau sudah mencoba menghubungi keluarganya?”

“Hyung, sepertinya… dia tinggal sendirian di Seoul. Semua keluarganya ada di Indonesia.” jawab Wookie.
Jungsoo pun menarik nafas panjang. “Berarti, sebelum dia pulih, dia tanggung jawab kita.” ucapnya, sementara menghampiriku. “Tenanglah… kami akan mengurusmu sampai ingatanmu pulih. Bagaimanapun, aku mewakili Sungmin meminta maaf. Super Junior meminta maaf kepadamu.”

Aku hanya diam menatap Jungsoo, Sungmin, Wookie, dan beberapa namja yang memasuki kamar rawatku dan berlutut sambil membungkukkan badan mereka,sambil berkata, “Mianhada…”

Aku pun mengangguk. “Baiklah… aku tak suka melhat orang meminta maaf sampai seperti itu…” ucapku tiba-tiba. “Tenang saja, aku sudah memaafkan kesalahan Sungmin-sshi…” Eh? Kenapa aku begitu cepat bisa memaafkan kesalahannya? Entahlah… Aku juga bingung dengan perasaanku ini.

Kulihat Sungmin menghampiriku dan memelukku. “Gomawo… terima kasih…”

Aku hanya tersenyum, membalas pelukannya sambil menatap ke arah Jungsoo yang juga membalas senyumanku. “Gomawo…” bisiknya.

“Ne… cheonmaneyo…” sahutku.

“Kau tak perlu berlama-lama memeluknya, Minnie.” tegur Jungsoo.

“Ah, ne…” sahut Sungmin seraya melepas pelukannya. “Aku hanya merasa sangat bersyukur, karena dimaafkan.”

“Jadi, kami harus memanggilmu siapa?” tanya Jungsoo. “Wookie-ah, apa kau temukan kartu identitasnya?”

“Ne, Jungsoo hyung.” kata Wookie, sambil memberikannya kartu identitas itu kepadaku.

Aku menatap kartu itu. “Namaku… Sakura…” jawabku. “Sakura imnida…”

“Nama yang indah. Kalau tidak salah, itu nama sebuah bunga di Jepang.” jawab Jungsoo. “Kalau begitu, kami akan memperkenalkan diri kami masing-masing… Naneun Jungsoo imnida, tapi ELF biasa memanggilku Leeteuk…”

“Naneun Jongwoon imnida, tapi aku biasa dipanggil Yesung.”

“Naneun Donghee imnida, tapi ELF biasa memanggilku Shindong… bangapseumnida, Sakura…”

“Nado bangapseumnida, Shindong-sshi… kau lucu sekali…” kataku pada namja gemuk tapi menggemaskan itu.

“Aku tau, aku memang lucu…”

“Naneun Hyukjae imnida, tapi orang-orang biasa memanggilku Eunhyuk.”

“Naneun Siwon imnida. Bagaimana keadaanmu?” tanya namja itu.

“Lumayan.” jawabku.

“Naneun Zhoumi imnida.”

“Naneun Donghae imnida. Bangapseumnida.” sahut namja yang terlihat seperti anak-anak itu.

“Nado bangapseumnida, Donghae-sshi.” ucapku.

“Naneun Kyuhyun imnida.”

“And I’m Henry. Nice to meet you.”

“Nice to meet you too.” jawabku pada namja yang wajahnya seperti kue mochi.

“Dan kau pasti sudah tau Sungmin dan Ryeowook kan?” tanya Leeteuk.

Aku mengangguk cepat. “Ne, Leeteuk-sshi.”

“Kau tau kami siapa?” tanya Siwon.

Aku menggeleng. “Ani, Siwon-sshi.”

“Uri Super Juni” sahut Leeteuk dan segera dilanjutkan oleh yang lain, “OR!”

“Nde? Bisa diulangi? Aku tak paham.”

“Kami ini Super Junior.” kata Leeteuk menjelaskan.

“Super Junior?”

“Ne. Suatu hari kau akan mengingatnya. Kan kau ELF.” kata Ryeowook sambil merangkulku.

“ELF?”

“Ne… kau seorang ELF… EverLasting Friends bagi Super Junior.” jawab Sungmin. “Ini yang membuatku semakin bersalah padamu… karena kau salah satu ELF…”

“Maksudnya fans kalian?”

“Ya, bisa dibilang begitu. Tapi kami lebih senang menyebut mereka sebagai sahabat kami dan keluarga kami.” kata Leeteuk. “Karena kau hanya sendiri di sini, maka kau jadi tanggung jawab kami. Tadi kata Jaejoong uisangnim, kalau tidak ada masalah, besok kau sudah bisa pulang. Tapi kau tetap harus menjalani terapi, agar ingatanmu segera pulih.”

“Jadi, besok aku akan menjemputmu pulang ke dorm kami.” kata Sungmin.

“Dorm kalian? Uwaaa… Bukannya itu berarti aku harus tinggal bersama namja?” tanyaku yang langsung merasa takut karena akan dibawa ke tempat mereka.

“Kau takut kami melakukan hal buruk kepadamu? Tenang saja, namja yang kemungkinan akan mengusilimu akan dijaga ketat.” sahut Yesung sambil menunjuk ke arah namja yang sedang menunjukkan senyum evilnya.

“Yak, Yesung hyung! Kau jangan menjatuhkanku didepan yeoja ini dong! Siapa tau kan aku bisa mendekatinya.” sahut Kyuhyun, yang langsung mendapat death glare dari Sungmin. “Hehehe! Minnie hyung, tenang saja… mana berani aku mendekati yeoja ini… kau kan tau, aku takut dengan martial art-mu itu…”

Canda mereka membuatku tertawa. Mereka begitu lucu, manis, dan menggemaskan. Tapi, sementara itu, aku merasa kepalaku pusing sekali dan aku juga merasa mau muntah. Aku pun segera menutup mulutku dan berlari ke kamar mandi.

Sungmin yang menyadari itu segera menyusulku. “Gwenchanayo?” tanyanya. Dari depan pintu kamar mandi.
“Gwenchana.” jawabku. “Kenapa aku muntah darah ya?” gumamku. Aku bingung. Awalnya, kurasa mungkin aku gegar otak, mengingat apa yang Wookie tadi bilang. Tapi harusnya yang kumuntahkan bukan darah. Aigoo… aku sakit apa?

“Teukie hyung, tolong panggilkan Jaejoong uisangnim segera. Aku curiga Sakura gegar otak.” kata Yesung tiba-tiba.

Biarlah mereka mengira aku hanya gegar otak. Setelah berulang kali membasuh wajahku agar noda darahnya hilang, aku pun keluar kamar mandi.

Di luar sudah, Jaejoong uisangnim menungguku sambil menatapku kuatir, lalu memeriksaku. “Apakah masih merasa mual?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. “Ne… tapi masih bisa kutahan.” jawabku.

“Kau yakin?” tanya Jaejoong uisangnim.

Aku mengangguk adar para namja itu tidak terlalu mengkhawatirkanku. “Ne, Jaejoong uisangnim. Gwenchana.”

“Kalau begitu, kau harus istirahat sekarang. Yang menemani hanya boleh satu atau dua orang saja. Yang lain di luar.” kata Jaejoong uisangnim.

“Kalo gitu, ayo kita keluar.” kata Leeteuk. “Uisangnim, kau duluan.”

“Kalian duluan saja.” kata Jaejoong uisangnim.

Lalu, para namja itu keluar sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya tersenyum. “Mereka baik ya, uisangnim.”

“Ne, Sakura. Ada hal yang aku ingin tanyakan… tadi kau muntah darah kan?”

Deg… pertanyaan Jaejoong uisangnim yang langsung ke inti permasalahan membuatku kaget. “A.. apa maksudmu, uisangnim?”

“Mereka kan sudah di luar. Kau tak perlu berbohong lagi. Ada hal yang memang harus kau ketahui.”

***
Sementara itu, di luar kamar,

Author pov,

“Kalau begitu, biar aku dan Wookie saja yang menemaninya.” kata Sungmin. “Ya, Wookie?”

Namja yang dipanggil terlihat tengah menatap dengan pandangan kosong, membuat hyungdeulnya bete. “Yak, Wookie!” sahut Sungmin.

Wookie tersentak kaget. “Ne, hyung?”

“Gwenchanayo?” tanya Sungmin.

Wookie menggeleng cepat. “Gwenchana. Tadi kau bertanya apa hyung?”

“Kita yang jaga Sakura seharian ini, bagaimana menurutmu?”

“Aku tak apa. Baik.” jawab Wookie yang kemudian kembali terdiam.

“Bukannya kalian malam ini harus siaran di sukira?” tanya Leeteuk.

“Aissh… jinja… aku lupa. Ottoke?”

“Biar aku saja yang menemani dia hari ini. Kebetulan aku sedang tidak ada jadwal dua hari ini. Bagaimana?” usul Yesung.

“Hyung, tapi kan aku yang menabraknya. Sudah seharusnya aku yang menemaninya.” kata Sungmin.

“Yak… Memangnya ELF hanya dia?” tanya Yesung. “Kau kan juga punya kewajiban pada ELF yang selalu menunggumu dan Wookie siaran. Apa kau tak perduli pada mereka?”

Sungmin menundukkan kepalanya. “Araso… kalau begitu, kutitipkan Sakura padamu ya, hyung! Tolong jaga dia.”

“Ne. Araso.” kata Yesung sambil berjalan menuju kamar rawat Sakura.

“Kalian pulanglah duluan. Aku akan menemani Yesung sebentar.” kata Leeteuk.

“Baiklah.” kata Siwon. “Kami pergi dulu, hyung.”

Yesung menatap Wookie yang berjalan pergi bersama para dongsengnya yang lain. “Kurasa ada sesuatu yang aneh dengan Wookie. Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu.” katanya pada diri sendiri.
***

Sakura pov,

Mereka sudah keluar semua karena diusir sama Jaejoong uisangnim. Setelah memberitahu kebenaran tentang penyakitku, Jaejoong uisangnim menyusul keluar. Aku menarik nafas panjang, mengingat kata-kata Jaejoong uisangnim tadi.

Flashback,

“Kau tadi muntah darah, kan?”

Aku terdiam. “B-bagaimana kau bisa tahu?”

“Sebenarnya kau…” katanya seraya menarik napas panjang. “Kau menderita Leukimia stadium akhir.”

“Ooh… sudah separah itu ya?” tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan kosong. Eh? Kenapa aku tenang sekali? Seolah aku memang sudah tahu tentang penyakitku.

Jaejoong uisangnim mengangguk. “Ya, Sakura.”

“Kalau aku boleh tahu, berapa lama lagi?”

“Mungkin sekitar 2-3 bulan lagi paling lama.”

“Ooo… gomawo, uisangnim…”

“Kalau butuh apa-apa, segera pencet tombol Emergency diranjangmu ya.”

“Ne, uisangnim…”

Flashback end.


Aku kembali menarik napas panjang dan kemudian tersenyum tiba-tiba, mengingat tingkah para namja itu tadi. Benarkah aku salah satu fans mereka? Entah kenapa, pandanganku tiba-tiba tertuju pada pergelangan tangan kiriku. Di situ terlingkar sebuah gelang karet berwarna biru dengan tulisan ‘ELF LOVE SUPER JUNIOR’. Jadi ini alasannya.

“Bagaimana kondisimu?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul.

“Oh,Yesung-sshi. Aku sudah merasa sedikit lebih baik. Yang lain ke mana?”

“Mereka masih punya jadwal yang tidak mungkin dibatalkan. Seharian ini aku yang akan menemanimu.” kata Yesung. “Dan, tolong jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku Yesung oppa. Ternyata kau seumur Kyu…” katanya lagi setelah melirik ke arah kartu identitasku.

“Araso, Yesung oppa.”

“Berarti kau harus memanggilku Teukie oppa juga dong. Kan aku lebih tua dari Yesung.”

Aku dan Yesung menoleh ke arah asal suara itu. “Kau tidak pulang, hyung?” tanya Yesung.

Leeteuk menggelengkan kepalanya. “Sebagai leader, aku kan yang juga bertanggungjawab menjaga uri ELF.”

Kulihat Yesung tersenyum. “Baiklah hyung. Terserah kau saja.” katanya. “Tapi apa hari ini kau tak ada jadwal?”

“Aku tadi menelepon manajer hyung, dan membatalkan semua jadwalku hari ini.” kata Leeteuk sambil tersenyum hangat.

“Mianhada, aku jadi merepotkan kalian.” kataku.

“ELF tak akan pernah jadi hal yang merepotkan kami. Justru karena ELF, kami bisa bertahan seperti ini.” kata Leeteuk. “Karena itu, kami akan berusaha sebaik-baiknya buat ELF juga.”

“Apa kau sama sekali tidak mengingat siapa kami?” tanya Yesung.

Aku berusaha mencoba mengingat mereka. Memang wajah-wajah ini tidak asing lagi buatku. Seolah aku memang mengenal mereka. Dan entah kenapa, saat aku mendengar permintaan maaf mereka tadi, hatiku semudah itu memaafkan kesalahan Sungmin. Aku menggelengkan kepalaku. “Aku mencoba mengingatnya, tapi tidak bisa. Hanya saja, wajah kalian memang tidak terasa asing lagi buatku.”

Kulihat Yesung dan Leeteuk tersenyum senang. “Berarti kita tidak benar-benar terlupakan olehnya meski dia mengidap amnesia sementara ya, hyung.”

Shining star
Like a little diamond
Makes me love

“Yoboseyo, Wookie.” kata Leeteuk. “Aku terima telepon sebentar ya.”

Aku dan Yesung mengangguk. “Lagu tadi…”

“Hmm?”

“Lagu tadi itu lagu kalian kan?”

Yesung mengangguk. “Ne. Itu lagu kami. Kok kau bisa cepat menebak itu lagu kami?”

“Entah kenapa, sepertinya aku sangat suka lagu itu. Kalau tidak salah, judulnya…”

“Nde?”

Ya! Aku ingat judul lagu itu! “Shining Star.”

Aku melihat mata Yesung berkaca-kaca. “Wae? Apakah aku salah?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng. “Ani… aku hanya terharu mendengar kau dapat menyebutkan judul lagu itu. Lagu itu diciptakan memang buat ELF.”

Aku tak heran mata Yesung berkaca-kaca. Mendengar lagu itu pun, rasanya aku ingin menangis. Ternyata, lagu itu tercipta untuk fans mereka. “Bisakah kau menyanyikan lagu itu?” pintaku.

Yesung mengangguk dan mulai menyanyikan lagu itu.

Shining Star!
Like a little diamond,
Makes me love
Naegen kkoomgyeolgateun
Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo
Hangsang hamkke halgeora
Till the end of time

Aku tersenyum menatapnya menyanyikan lagu itu. Tiba-tiba sekilas bayangan aku ada di sebuah konser… ya, sepertinya sebuah konser… sepertinya konser namja-namja yang baru kutemui tadi.

“Sakura… kau kenapa?” tiba-tiba suara Yesung terdengar, membuyarkanku.

“Eh? Ani,, oppa… Aku hanya…”

“Nde? Hanya apa?”

“Tadi saat oppa menyanyikan lagu itu, tiba-tiba aku merasa seperti berada di sebuah konser… sekelilingku penuh dengan warna biru. Aku melihat oppa dan yang lainnya menyanyi lagu itu di atas panggung… Aisshh… Aku bingung! Apa maksudnya yang kulihat tadi?” kataku sambil menggaruk kepalaku.

Kulihat mata Yesung berkaca-kaca lagi. “Kau tak perlu bingung, Sakura.” sahut Leeteuk yang tiba-tiba muncul sambil menyeka air matanya (eh? Dia menangis?). “Itu tandanya, kau sudah mulai pulih.”

“Kenapa kalian berdua menangis? Apa aku salah?”

“Ani, Sakura.” sahut Leeteuk. “Kami hanya terharu. Kau begitu cepat pulih hanya dengan mendengarkan lagu kami.”

Sakura pov ends.

***
Flashback

Leeteuk pov
“Aku angkat telepon dulu ya.” ucapku sambil berjalan keluar kamar. “Yoboseyo, Wookie. Ada apa kau menghubungiku.”

“Kau di mana, hyung?”

“Aku masih di rumah sakit. Ada apa? Sepertinya dari tadi kau terlihat menyembunyikan sesuatu, Wookie.”

“Kau… kau tahu itu, hyung?”

“Awalnya tidak. Tapi aku mendengar Yesung bergumam kalau kau dari tadi terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Ada apa, Wookie?”

“Ini… tentang Sakura…”

“Ada apa dengan Sakura?”

“…”

“Wookie? Apa itu buruk?”

Tiba-tiba terdengar suara isak tangis.

“Wookie, kau menangis?”

“Wookie…”

“Dia tidak akan bertahan lama, hyung…”

“Mwo? Maksudmu apa? Aku tak mengerti.”

“Sakura… hidupnya tidak akan lama lagi…”

Deg… rasanya jantungku seakan berhenti berdetak. “Apa maksudmu…”

Isak tangis dongsaengku itu terdengar semakin keras. “Ne, Jungsoo hyung…”

“Apa yang terjadi?”

“Sakura menderita penyakit Leukimia stadium lanjut… tapi dari kondisinya sekarang, Jae hyung menyimpulkan kalau penyakitnya memasuki stadium akhir…”

“Jinja? Apa kau yakin?”

“Hyung, aku tak mendengar kabar itu dari orang lain,, tapi dari Jaejoong hyung… dokter kepercayaan kita… Aku tau,, ini memang suatu hal yang sulit dipercaya… tapi, itulah kenyataannya…”

“…” kini, gantian aku yang terdiam. Aku benar-benar terhenyak mendengar kabar dari dongsaengku itu.

“Hyung, gwenchanayo?”

“Gwenchana…” itulah yang selalu kukatakan pada para dongsengku, apapun yang terjadi. Dan mereka sepertinya berpura-pura percaya kalau aku baik-baik saja, meskipun aku tidak benar-benar baik saja.

“Hyung, kau bohong…” itu katanya. Dia memang sangat sensitif. Dia tahu dan bisa merasakan kalau jawabanku itu bukan jawaban yang jujur.

“Aku hanya ingin agar kau dan minnie bisa siaran dengan baik di Sukira untuk ELF yang lainnya.”

“Aku tahu, hyung. Hyung memang selalu berkata ‘gwenchana’, meskipun yang terjadi justru sebaliknya. Aku yakin semua memberdeul juga tahu itu. Sudahlah, hyung. Tak apa jika kau ingin menangis.”

Di saat itu juga, air mataku mulai mengalir deras. Aku yakin, walaupun Wookie tak mendengar isak tangisku di telepon, dia pasti tahu aku sedang menangis. “Gomawo, Wookie-ah…” kataku setelah bisa meredam perasaan sedihku ini.

“Kau sudah terlalu sering menjadi sandaran bagi kami, hyung… setidaknya, saat ini, meskipun hanya melalui telepon, aku hanya ingin kau tahu kalau kau pun bisa bersandar pada kami, para dongsaeng.”

“Neomu gomawo, Wookie-ah… oh iya, Minnie sudah tahu tentang penyakitnya Sakura?”

“Ani, hyung. Aku tak ingin Minnie hyung semakin merasa bersalah… Tadi, Jaejoong hyung hanya berbicara padaku tentang hal ini. Kini, hanya aku, kau, dan Jaejoong hyung…”

“Kau yakin?”

“Ne, hyung…” ucap si magnae yang kemudian sejenak terdiam. “Hyung, mianhae… aku sudah harus siaran sekarang… barusan Minnie hyung memanggilku.”

“Oke. Sampai nanti.” kataku seraya berjalan menuju kamar tempat Sakura dirawat.

Saat ini perasaanku begitu kacau. Dadaku terasa sesak. Kabar tentang penyakit yang diderita Sakura benar-benar membuatku kacau. Samar-samar kudengar Sakura meminta Yesung bernyanyi lagu Shining Star. Aku hanya memandangi mereka dari pintu.

Shining Star!
Like a little diamond,
Makes me love
Naegen kkoomgyeolgateun
Dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo
Hangsang hamkke halgeora
Till the end of time

“Sakura, kau kenapa?” tiba-tiba kudengar Jongwoon bertanya.

“Eh? Ani,, oppa… Aku hanya…”

“Nde? Hanya apa?”

“Tadi saat oppa menyanyikan lagu itu, tiba-tiba aku merasa seperti berada di sebuah konser… sekelilingku penuh dengan warna biru. Aku melihat oppa dan yang lainnya menyanyi lagu itu di atas panggung… Aisshh… Aku bingung! Apa maksudnya yang kulihat tadi?” kata Sakura sambil menggaruk kepalanya.

Kulihat mata Jongwoon berkaca-kaca lagi. Sepertinya Sakura bingung kenapa mata Jongwoon berkaca-kaca. Sejak tadi kurasakan air mataku mengalir. “Kau tak perlu bingung, Sakura.” sahutku sambil menyeka air mataku. “Itu tandanya, kau sudah mulai pulih.”

“Kenapa kalian berdua menangis? Apa aku salah?” tanya Sakura yang sepertinya masih bingung.

“Ani, Sakura.” sahutku. “Kami hanya terharu. Kau begitu cepat pulih hanya dengan mendengarkan lagu kami.”

Flashback ends.

Leeteuk pov ends.

***

Yesung pov.

Sejujurnya, aku merasa aneh dengan sikap Wookie tadi. Kenapa saat dia berjalan pergi tadi dia terus menatap ke arah Sakura? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu? Kulihat Jungsoo hyung terus menatap Sakura yang sudah tertidur. Sesekali terlihat matanya berkaca-kaca. Aku hanya dapat menatap heran tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Entah kenapa, kurasa sesuatu telah terjadi. Dan, sepertinya itu hal yang buruk.

Aku benar-benar tak tahan lagi. Kulirik Sakura yang telah tertidur. Tanpa ragu, kuhampiri hyungku itu. “Aku ingin bicara denganmu, Jungsoo hyung. Tapi di luar. Jangan sampai mengganggu Sakura.” kataku sambil menarik paksa Jungsoo hyung.

“Ada apa, Jongwoon-ah?” tanyanya setengah kaget karena kutarik paksa keluar kamar rawat.

“Tolong kau jawab dengan jujur, hyung! Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Sakura? Kenapa dari tadi kau menatapnya sementara air matamu terus mengalir?” tanyaku beruntun.

Kulihat Jungsoo hyung hanya terdiam saja. Dia menundukkan kepalanya. Perasaanku semakin tidak enak. Kulihat air matanya mengalir semakin deras.

“Hyung… Seberapa buruk?”

“Sangat buruk…” jawabnya sambil terisak.

Aku butuh jawaban. Kuputuskan untuk langsung menemui Jaejoong uisangnim. “Aku titip Sakura ya, hyung.” sahutku.

“Kau mau ke mana?”

“Mencari jawaban.” sahutku seraya berjalan pergi.

Aku pun berlari menuju ruang Jaejoong uisangnim. Aku berhenti di depan ruangannya lalu mengetuk pintunya. “Masuk.” terdengar sahutan dari dalam ruangan. “Ada apa, Jongwoon-ah?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Pasti soal Sakura, ya?” tebaknya.

Aku mengangguk. “Sebenarnya, bagaimana kondisinya? Apa benar dia hanya amnesia sementara?”

Kulihat namja itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Sebenarnya, ada lagi.”

Wajahku menatap penasaran ke arahnya. “Apa maksudmu?”

Ia menarik napas panjang. Sepertinya, dia sendiri berat mengatakannya. “Sakura… dia menderita Leukimia…” katanya. “Mianhae, baru memberitahumu sekarang. Tadinya, aku hanya memberitahu Wookie dan Sakura sendiri.”

“Mwo?” kataku shock.

Aku langsung berjalan keluar ruang itu. Jantungku seakan berhenti berdetak. Leukimia… seberat itukah penyakit yang dideritanya? Dan Wookie… pantas saja dia terlihat terus menatap ke arah Sakura terus dari awal. Pantas saja Jungsoo hyung tau soal penyakit Sakura. Pasti Wookie yang memberitahunya via telepon tadi. Dan ternyata Sakura sendiri sudah tahu… pasti dia sangat sedih. Pantas saja, terlihat senyumnya dipaksakan. Aku mengacak-acak rambutku. Aku duduk di salah satu bangku taman di rumah sakit lalu memeluk kedua lututku dan menangis.

***
Esoknya,

Aku terhenti di depan kamar rawat Sakura. Jungsoo hyung tidak ada di dalam. Kulihat yeoja itu sedang duduk di atas tempat tidurnya. Tapi ada yang berbeda… Dia… menangis… Pasti karena dia sudah tau tentang penyakitnya… Aisshhh… Aku pun langsung menyeka air mataku dan masuk. “Ada apa, Sakura?”
Dia segera menyeka air matanya. “Yesung oppa? Kau mengagetkanku!” serunya.

Aku tersenyum menatap wajahnya yang sembab karena air mata. “Gwenchanayo?” tanyaku. “Kulihat kau menangis.”

Dia menggeleng cepat. “Aniyo! Aku tidak menangis, oppa.”

“Yaaah,, baiklah… aku percaya kau tidak menangis walaupun matamu masih sembab karena air mata.” kataku.

Dia tertunduk. “Ketahuan juga, ya?”

Aku mengambil handuk kecil lalu membasahinya dengan air hangat, kemudian mengelap wajah yeoja itu. “Nah kalau di lap seperti ini, takkan ada yang tahu kalau kau habis menangis tadi.” kataku. “Tenang saja… aku akan berpura-pura tidak tahu soal ini.”

Kulihat senyumannya merekah. “Gomawo, oppa!” sahutnya sambil memelukku.

Aku balas memeluknya sambil membelai lembut kepalanya. “Cheonmaneyo, Sakura…” kataku.

Kurasakan air mataku kini mulai mengalir. Kulihat di depan pintu ruang rawat sudah ada Jungsoo hyung dan memberdeul yang lainnya. Mereka tersenyum menatapku. “Gomawo…” bisik Jungsoo hyung padaku.

Yesung pov ends.

***
Author pov.

Leeteuk mengetuk pintu kamar rawat Sakura. “Heyo! Kalian berpelukan tanpa kami!” sahut Leeteuk mencairkan suasana.

Sakura terlihat kaget. “Teukie oppa, kau mengagetkanku!” sahutnya sambil melepas pelukannya dari Yesung. “Lho? Mereka ini siapa?” tanya Sakura bingung melihat ada 4 namja lain menyertai member Super Junior yang dikenalnya.

“Heechul hyung, Hankyung hyung, Youngwoon, Kibum! Aku merindukan kalian!” sahut Yesung sambil memeluk keempat namja itu sekaligus.

“Kami juga merindukanmu, kepala besar.” sahut Heechul.

“Jongwoon-ah! Tolong jangan seperti ini. Aku tak bisa bernapas!” keluh Kangin a.k.a. Youngwoon.

“Mian!” kata Yesung, yang langsung melepaskan pelukannya dari keempat namja yang dirindukannya.

“Siapa mereka, Yesung oppa?” tanya Sakura.

Wookie menghampiri Sakura. “Kau benar-benar tidak ingat siapa mereka?”

“Wajahnya sih tidak asing bagiku. Tapi tetap saja aku tidak ingat.”

“Mereka salah satu dari Super Junior.” kata Leeteuk.

“Naneun, Heechul imnida… ELF sering memanggilku Heenim.”

“Kibum imnida… bangapseumnida…” kata Kibum sambil memberikan death smilenya yang membuat Sakura jadi merona.

“Hankyung imnida… entah aku masih dianggap atau tidak.”

“Jangan seperti itu, Hankyung-ah… walaupun kau menyatakan diri keluar dari Super Junior, kau tetap bagian dari kami. Kau selamanya tetap Super Junior. Meski sekarang kau muncul sebagai solois.” kata Leeteuk. “Kalau memang kau bukan bagian dari kami, untuk apa aku memintamu datang kemari sekarang, hah?

“Mian, Jungsoo hyung…” kata Hankyung.

“Naneun Youngwoon imnida. Tapi ELF memanggilku Kangin.”

“Racoon?” tanya Sakura.

Biasanya Kangin akan sweatdrop kalau dipanggil ‘racoon’. Tapi kali ini, matanya berkaca-kaca. “Kau… kau ingat julukanku?” tanyanya.

“Julukan? Aku hanya ingat beberapa hal…”

“Seperti apa, Sakura?” tanya Yesung.

“Angel without wings, Racoon, Art of voice, king of aegyo, angel voice, mr beijing fried rice, cinderella… ya,, seperti itu saja yang kuingat… tapi aku tak tahu apa maksudnya.”

Para member Super Junior menatap yeoja itu dengan mata berkaca-kaca. “Kau sudah mulai ingat?” tanya Leeteuk.

“Molla… hal itu terus terngiang di pikiranku. Juga tentang angka 13+2… aku bahkan tidak tahu maksudnya. Angka itu terus menghantuiku.” jawab Sakura.

“13 adalah jumlah Super Junior… sedangkan 2 lagi adalah Zhoumi dan Henry, anggota Super Junior M.” kata Leeteuk menjelaskan. “Harusnya, mereka berdua jadi anggota inti. Tapi karena penolakan besar-besaran dari ELF, maka mereka hanya jadi anggota Super Junior M.”

“M, T, H, KRY… itukah maksud dari huruf M?” gumam Sakura.

“Maksudmu, Sakura?” tanya Wookie.

“Aku hanya tiba-tiba terpikir huruf-huruf itu. Tapi aku tidak tahu apa itu. Huruf-huruf itu sering terlintas di pikiranku.” kata Sakura. “Tapi saat aku berusaha mengingat lebih jauh, kepalaku terasa sangat sakit.”

Wookie memeluk Sakura. “Sudahlah. Kau jangan terlalu memaksakan diri. Kau juga harus banyak istirahat.”

“Tapi aku sangat penasaran dengan hal-hal yang sering melintasi pikiranku…” ujar Sakura.

***
Ryeowook pov.

Aku menatap Sakura. Terlihat jelas mata yeoja itu berkaca-kaca. Dia pasti tertekan karena berusaha mengingat hal-hal yang terlupakan. Belum lagi soal penyakitnya… Aishhh… Apakah dia tahu soal penyakitnya? Semoga saja Jaejoong hyung belum memberitahunya. Akh… tadi kulihat Jongwoon hyung sangat perhatian pada Sakura. Dari caranya menatap Sakura pun terlihat kekhawatirannya. Mungkinkah Jungsoo hyung sudah memberitahunya?

“Oppa, jangan memelukku terus dong…” kata Sakura tiba-tiba, membuyarkanku dari lamunanku.

“Eh? Mian…” sahutku seraya melepas pelukanku, karena mendapat death glare dari semua hyungdeul, Kibum, Kyu, dan si Mochi. Kulayangkan senyum innocent-ku, yang biasanya berhasil meluluhkan mereka.

“Wookie, kau tadi memikirkan apa? Kau tidak ketularan yadong seperti si kunyuk ini, kan?” tanya Hae hyung padaku sambil menunjuk ke arah Hyukkie hyung.

“Yak, Hae! Kenapa kau bawa-bawa aku segala sih?” omel Hyukkie hyung. “Memangnya kau lagi mikirin apa sih, Wookie?”

“Rahasia, hyung.” jawabku.

PLETAKK! Tiba-tiba kurasakan sebuah kepalan tangan mendarat di kepalaku dengan mulusnya. “Aww! Sakit, Jongwoon hyung!” sahutku.

“Aku hanya ingin kau bersih dari keyadongan Hyukkie.” katanya.

“Yak, hyung! Jangan buka kartuku di depan yeoja ini dong!” sahut Hyukkie hyung yang langsung ngumpet dibalik Hae hyung karena mendapat deathglare dari Jongwoon hyung.

“Tapi tidak dengan jitak juga dong, hyung!” keluhku. “Kan malu… masa aku dijitak di depan yeoja secantik ini sih? Nanti…”

PLETAKK! Kembali kurasakan sebuah jitakan. Tapi kali ini datangnya dari Jungsoo hyung. “Yak kau magnae! Sejak kapan kau jadi genit seperti ini? Rasanya aku tak pernah mengajarimu seperti ini.”

Aku kembali menunjukkan innocent smile dan puppy eyes ke arah hyungdeulku yang lain, demi tidak dijitak lagi. Sial, kalau Jungsoo hyung yang bertindak, tidak akan ada yang berani ikut campur, apalagi membela. Kutatap Kyu, tapi dia malah menunjukan evil smilenya. Kibum hanya tersenyum. Pilihan terakhir. Kutatap Sakura dengan puppy eyesku. Semoga berhasil. Yes! Berhasil! Sakura merangkulku. “Sudahlah Leeteuk oppa, kasihan dia.” katanya.

Jungsoo hyung pun luluh. Horeeee! “Gomawo, Sakura!” kataku.

“Oh ya, kalau boleh, aku ingin mendengar kalian bernyannyi.” kata Sakura tiba-tiba.

Aku menatap member Super Junior yang lainnya. Lagu apa yang kira-kira cocok untuk kami nyanyikan?

“Menurutmu lagu apa, hyung?” tanyaku pada hyungdeulku.

“Bagaimana kalau ‘Sorry Sorry’?” celetuk Hyukkie hyung.

“Masalahnya ini di rumah sakit, Hyukkie. Jangan lagu itu juga, dong!” sahut Youngwoon hyung.

“Bagaimana kalau ‘Believe’?” celetuk si Evil Magnae.

“Sepertinya itu bagus.” kataku.

“Aku setuju.” kata Minnie hyung. “Pintar juga kau, Kyu! Tumben.”

“Hehehe… Aku kan memang pintar.” sahut Kyu yang langsung mendapat jitakan dari Heechul hyung. “Aww, hyung! Sakit tau!”

“Aku tahu koq kalau itu sakit. Karena itu aku menjitakmu. Hadiah kepintaranmu.” Sahut Heechul hyung.

“Sudahlah… kalau begitu, ayo kita mulai menyanyi. Hana, tul, set…” sahut Jungsoo hyung memberi aba-aba.

Aku pun langsung memulai bagianku.

Uriga mannage doen narul chugboghanun i bamun
hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo

gudeui misoga jiwojiji anhgil bareyo
onjena hengboghan nalduri gyesog doegil bilmyo

Honja jisenun bamun na gudega jakku to olla
gudeyege jonhwarul goro tujongul burinda hedo
sashil naui maumun guronge anirangol
algoinayo da algodo morunche hanun gongayo

Himdun iri idahedo gude mogsoril
jamshirado dudge doendamyon nan da idgo usul su ijyo

Guderul mannal su issodon gon hengunijyo
gyotheman issodo usul su ige mandunikkayo
gudega jo molli issodo chajul su issoyo
neane gudega misorul jidgo issunikka

Oren shigan hurumyon dathul sudo ijyo
guron nalduri ondedo byonhaji anhulkeyo

Yagsogheyo hanurare mengse halkeyo
dalbichare gido halkeyo gudel ulliji anhnundago

Uriga mannage doen narul chugboghanun i bamun
hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo
gudeui misoga jiwojiji anhgil bareyo
onjena hengboghan nalduri gyesog doegil bilmyo

Mon hudnal onjenga jichigo himi dunda hedo
hengboghago arumdawodon chuogul giogheyo
soroui hwawone midumul shimgo hengbogul piwo
maume yolshoeurl noege jonhe jul tenikka

Air mata kami semua mengalir. Mata Sakura pun berkaca-kaca. Ya, di konser pertama kami, saat kami menyanyikan lagu ini, air mata kami pun mengalir. Kami jadi teringat masa-masa sulit yang kami hadapi, tapi karena kami tetap bersama dan ELF selalu ada buat kami, kami menjadi tetap kuat dan tegar bagi satu sama lain dan terutama bagi ELF.

“Lagu ini… membuat semangat hidupku kembali…” gumam Sakura. Walaupun suaranya hampir tak terdengar, aku tetap dapat mendengarnya. Jadi dia sudah tau soal penyakitnya ya?

Aku pun memeluknya erat. “Semangatlah, Sakura. Kalau kau semangat, maka Super Junior pun akan semangat.” bisikku di telinganya.

Sepertinya dia kaget. “Oppa, kau tahu soal penyakitku?” bisiknya.

“Ne… aku tahu… karena itu, semangatlah. Kalau kau semangat, kami pun akan semangat.” bisikku.

Saat itu, Jongwoon hyung dan Jungsoo hyung melihatku sambil tersenyum. Dapat kutangkap gerakan mulut Jongwoon hyung, “Kau hebat, Wookie.” dan Jungsoo hyung, “Gomawo.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah mereka. Hanya kami bertiga yang tahu apa yang terjadi. Member Super Junior yang lain tidak ada yang tahu. “Gomawo.” kataku.

“Oppa, kenapa kau bilang ‘gomawo’ dan tiba-tiba tersenyum?” tanya Sakura sambil melepas pelukannya.

“Aniyo… aku hanya senang karena kata-katamu tadi.” jawabku sambil merangkulnya.

“Mianhae, semuanya. Aku sudah harus kembali ke Beijing. Besok aku ada photoshoot.” sahut Hankyung hyung. “Aku pulang duluan, ya.”

Kami semua pun memeluk Hankyung hyung. “Sering-seringlah main ke Seoul, hyung.” kataku. “Dorm kami akan selalu terbuka untukmu.”

“Gomawo, Wookie. Jaga Sakura baik-baik. Aku tahu kalau kau, Jungsoo hyung dan Jongwoon menyembunyikan sesuatu tentang kondisi Sakura. Nanti aku akan meneleponmu untuk menanyakan kabarnya.” kata Hankyung hyung.

“Ne, h-hyung.” Jawabku terbata-bata. Ternyata Hankyung hyung bisa menebaknya. Aish…

“Sakura, aku pulang dulu. Jangan lupakan aku ya.” pinta Hankyung hyung.

“Ne, oppa. Hati-hati.” kata Sakura.

“Kalau begitu, aku dan Youngwoonie juga harus kembali ke kamp militer.” kata Heechul hyung.

“Hati-hati, hyung.” sahutku.

“Kami pulang dulu, Sakura. Semoga ingatanmu segera pulih.” kata Youngwoon hyung.

Heechul hyung memelukku. “Kau tahu aku tidak bisa dibohongi kan? Aku tahu ada yang kau Jongwoon dan Jungsoo sembunyikan tentang penyakitnya. Kalau ada apa-apa, tolong kabari aku.”

Aku mengangguk cepat. “A-araso, hyung. Hati-hati.” Benar-benar… Hankyung hyung dan Heechul hyung sama sekali tidak bisa dibohongi… apalagi Heechul hyung…

“Biar kuantar kalian, Chullie hyung, Youngwoon hyung.” kata Siwon hyung. “Ada yang mau ikut?”

“Aniyo… kau hati-hatilah menyetir.” kata Jungsoo hyung.

“Aku pulang dulu, Sakura. Cepat sembuh ya.”

“Ne, Siwon oppa…”

Siwon hyung, Youngwoon hyung dan Heechul hyung pun keluar, diikuti Zhoumi hyung, Henry, Hyukkie hyung, dan Hae hyung serta Kibum, setelah mereka berpamitan pada Sakura. “Minnie hyung, kau tak mau pulang?” tanya Kyu.

“Aniyo. Kau pulang saja.” jawab Minnie hyung.

“Araso…” jawab Kyu patuh. “Kuharap ingatanmu segera kembali, Sakura. Hwaiting!”

“Ne, Kyuhyun… gomawo…” jawab Sakura yang dibalas senyuman hangat oleh si evil magnae itu seraya dia keluar kamar.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Minnie hyung.

“Gwenchana, oppa.” jawab Sakura.

“Wookie, aku ingin bicara padamu sebentar.” ujar Jongwoon hyung sambil merangkulku dan menarikku keluar kamar.

“Ada apa, hyung?”

“Kenapa kau tak cerita padaku soal kondisinya?”

Aku tertunduk. “Mianhae, hyung. Saat itu yang kupikirkan adalah Jungsoo hyung harus tahu.”

Kurasakan tangan Jongwoon hyung memelukku. “Gwenchana, Wokkie-ah… aku hanya terlalu kuatir pada ELF kita ini.”

“Kurasa, semua juga mengkhawatirkannya.” terdengar suara lain.

“Jungsoo hyung? Sungmin mana?” tanya Yesung.

“Kuminta dia menjaga Sakura.” jawab Leeteuk. “Kau berhasil menyemangatinya, magnae… gomapta…”

“Aniyo, hyung… lagu ciptaan Heechul hyung yang menyemangatinya…” jawabku. “Oh ya… sepertinya, Sakura sudah tahu tentang penyakitnya.”

“Mwo?” tanya Leeteuk yang kaget.

“Aku sudah tahu itu.” jawab Yesung tenang.

“K-kau?”

“Ne, hyung… Jaejoong memberitahuku.”

“Jaejoong hyung memang bilang padaku kalau dia akan memberitahu Sakura tentang penyakitnya. Tapi aku tidak menduga secepat ini.” kataku. “Kasihan Sakura… dia sudah menderita amnesia… ditambah lagi dengan Leukimia…”

“Kau bilang apa, Wookie?” suara itu sontak membuatku, Jongwoon hyung dan Jungsoo hyung kaget. Aish… kenapa Minnie hyung harus mendengar kata-kataku tadi sih?

“S-sungmin hyung… aku… a-aku…”

“Jawab aku, Wookie… jebal…” ucapnya sambil mengguncang kedua pundakku. Kulihat air matanya sudah tidak terbendung lagi.

“Sudahlah, Minnie…” kata Jungsoo hyung. “Tenangkan dulu dirimu…”

“Kenapa aku tidak diberitahu?”

“Kau ikut denganku!” kata Jongwoon hyung sambil menarik tangan Minnie hyung.

Ryewook pov ends.

***

Sungmin pov,

“Kau mau bawa aku ke mana, hyung?” tanyaku sementara Jongwoon hyung menarikku.

“Aku mau membawamu pulang ke dorm.” jawabnya dingin.

“Andwae! Aku tidak mau!”

“Kalau kau bisa tenang dan mendengarkan penjelasan Wookie dan Jungsoo hyung, baiklah. Tapi kalau kau merasa kau tak akan bisa mengontrol emosimu, lebih baik kau pulang. Aku tak ingin hanya gara-gara emosimu ini, kita membuat Sakura sedih. Kau tahu, tadi kulihat dia menangis karena sadar hidupnya tidak lama lagi. Lagu yang tadi kita nyanyikan buat dia dan pelukan Wookie tadi setidaknya membangkitkan semangatnya!” kata Yesung. “Kalau kau butuh penjelasan, ayo ikut aku menemui Jaejoong.”

Perasaanku saat ini benar-benar bercampur-aduk. Aku makin merasa bersalah terhadap Sakura. Aishh… apa yang harus kulakukan? “Leukimia yang diderita Sakura bukan kesalahanmu, Sungmin-ah… Dia memang sudah lama mengidap penyakit itu.” kata Jongwoon hyung, seolah membaca pikiranku. “Jangan merasa bersalah untuk itu.”

Kami berdua sampai di ruang Jaejoong hyung. Jongwoon hyung pun mengetuk pintu. “Masuk!”

“Ada yang mau kami bicarakan, Jae…”

“Sudah kuduga, orang berikutnya yang akan tau itu pasti kau, Sungmin-ah…”

“Kenapa kau tak memberitahuku tentang penyakitnya itu, Jae hyung?”

“Aku tak mau kau semakin merasa bersalah… Penyakit itu sudah ada sebelum kau tak sengaja menabraknya.” kata Jae hyung. “Yang dibutuhkan Sakura adalah semangat. Sepertinya, itulah tujuan dia ke sini…”

“Maksudmu?” tanyaku dan Jongwoon hyung bersamaan.

“Aku sudah menghubungi keluarganya di Indonesia. Mereka bilang, Sakura ingin melihat Super Show untuk yang terakhir kali, sebelum dia bisa pergi dengan tenang…”

“Jadi dia ada di sini untuk menonton SS4 yang kemarin?” tanyaku.

“Kure… bisakah kau dan Super Junior memberinya semangat, walaupun ingatannya tentang kalian belum pulih?”

“Ya…” jawabku dan Jongwoon hyung, dan…

“Kalian?” seruku karena melihat seluruh member Super Junior yang tadi sudah pamit pulang ternyata ada di depan ruang Jae hyung bersama dengan Jungsoo hyung dan Wookie.

“Jae, bisakah kau pinjamkan kami Sakura?” tanya Jungsoo hyung.

Jae hyung tersenyum. “Kurasa aku tahu apa maksudmu. Baiklah. Beritahu aku kapan kau akan meminjamnya.”

“Buat apa, hyung?” tanyaku.

“Pabo! Kita tentu akan mengadakan konser tunggal dengan formasi lengkap, 13+2…” jawab Heechul hyung.
Mataku berkaca-kaca. “Ki-kita tampil dengan formasi lengkap?” tanyaku tak percaya.

Kulihat air mata semua hyungdeulku dan dongsaengdeul mengalir. “Demi Sakura, kita akan konser dengan formasi lengkap…” kata Jungsoo hyung. “Bisakah kau menunda kepulanganmu ke Beijing, Hankyung?”

Kulihat Hankyung hyung mengangguk. “Setidaknya kali ini aku ingin membahagiakan ELF sebagai Super Junior.” ucapnya seraya menyeka air matanya.

“Heechul, Youngwoon, bisakah?” tanya Jungsoo hyung.

Mereka berdua mengangguk. “Kami bisa, hyung.” jawab Youngwoon hyung.

Mata kami semua mengarah ke magnae yang vakum sejak sebelum Super Show 2. “Kibum, kumohon…” Jungsoo hyung meminta magnae itu.

Kibum yang sejak tadi diam pun mengangguk. “Ne, hyung…”

“Kalau begitu, akhirnya kita bisa comeback dengan formasi lengkap…setidaknya, demi menyemangati Sakura…” kata Jungsoo hyung sambil menyeka air matanya yang tidak kungjung berhenti. “Sekarang tinggal masalah tempat…”

“Aku tahu tempat yang aman buat kalian konser tanpa sepengetahuan ELF…” celetuk Jae hyung.

Semua mata kini tertuju pada Jae hyung. “Di mana?” tanya kami semua.

“Di rumahku.” jawab Jae hyung.

Kami tahu rumahnya. Kami sendiri bingung menyebut itu rumah atau gedung. Bangunan putih 10 lantai itu berada di pinggiran kota Seoul. Jae hyung sendiri jarang ke situ. Dia hanya ke sana kalau ingin refreshing sejenak dari kesibukannya sebagai seorang dokter. Kalau untuk sebuah konse rahasia, disana memang cukup luas. Kami ber 15 bingung bagaimana harus menjawab.

“Bagaimana?” tanyanya lagi.

Satu per satu tidak bisa lagi membendung air mata kebahagiaan. “Go-gomawo, Jae… neomu gomawo…” sahut Jungsoo hyung segera berlari memeluk Jae hyung.

“Ne… sekarang, kalian pun juga harus persiapkan diri kunci ruang aula rumah sakit, kalau kalian mau latihan dance. Kalau lagi latihan, kunci pintunya. Jangan sampai terlihat.”

“Ne!” jawab kami serempak.

“Kalau soal soundnya,, biar aku yang atur. Yang perlu kalian siapkan hanyalah dance dan…”

“Aku tahu.” celetukku. “Dan cara kita menyamar supaya tidak diikuti ELF yang lain kan, hyung?”

“Kure… kau benar sekali.” jawabnya.

“Ok, Super Junior, malam ini kita rapat. Wookie dan Sungmin, kuminta kalian menjaga Sakura malam ini.” sahut Jungsoo hyung semangat.

“Ne, hyung.” jawabku dan Wookie bersamaan.

Sungmin pov ends.

***

Author pov,

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Ingatan Sakura sudah pulih secara bertahap karena sering dinyanyikan lagu secara bergantian oleh anggota Super junior yang bergantian menjaganya. Tapi, kondisi kesehatannya pun semakin menurun.

Hari ini, Super Junior akan mengadakan konser dengan formasi lengkap. *author ngarep banget yak… PLAKK* Semua member sedang bersiap-siap dengan kostum mereka masing-masing di rumah Jaejoong. “Ya, sebelumnya aku ingin berterima kasih pada kalian semua karena bersedia meluangkan waktu demi satu ELF kita yang bakalan segera datang. Ku harap, dia masih sempat untuk hadir dan melihat kita tampil.” kata Leeteuk seraya menarik napas panjang. “Setidaknya kuharap dia bisa bertahan sampai akhir perform kita.”

“Ayo berkumpul! Absen…” sahut Heechul.

“Leeteuk”

“Heechul”

“Hankyung”

“Yesung”

“Kangin”

“Shindong”

“Sungmin”

“Eunhyuk”

“Siwon”

“Zhoumi”

“Donghae”

“Ryeowook”

“Kibum”

“Kyuhyun”

“Henry”

“Oke… sekarang, lakukan yang terbaik buat Sakura! Urineun Syupeo Juni…” sahut Leeteuk.

“OR!” lanjut lainnya.

“Hyung, Jae hyung sudah datang dengan Sakura.” sahut Ryeowook.

“Ayo, kita bersiap-siap.” kata Leeteuk.

Para member Super Junior menyaksikan Jaejoong datang sambil mendorong Sakura yang terduduk di kursi rodanya. Rambut indah yang tadinya menghiasi kepalanya hilang karena harus berkali-kali kemoterapi. Sementara, botol infus tergantung di samping kursi roda. Wajah yeoja itu sangat pucat. Air mata kembali menggenang di mata semua member Super Junior. “Oke. Tahan air mata kalian. Tampilah sebaik mungkin di depan Sakura…” sahut Leeteuk sambil menyeka air matanya.

***

Sementara itu,

Jaejoong pov,

“Jae oppa, kenapa kau bawa aku ke sini?” tanya Sakura sambil menoleh ke arahku.

Aku tersenyum. “Kau akan mendapatkan sebuah kejutan.”

“Kejutan?”

Aku mengangguk cepat. “Tunggu saja.”

Pandanganku beralih ke para perawat yang ikut denganku. “Bersiap kalau terjadi sesuatu.” bisikku, yang ditanggapi dengan anggukan.

Aku pun duduk di samping Sakura. Sepertinya yeoja itu penasaran dengan kejutannya. Berkali-kali dia menoleh ke arahku dan ke ara panggung yang berada di hadapan kami secara bergantian. Aku hanya tersenyum menatapnya. Sejujurnya, aku merasa sayang kalau sampai dia harus meninggal, tapi aku tak berdaya karena kanker yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir. Aku hanya dapat bersyukur karena sempat mengenalnya. Kurasa Jungsoo dan dongsaengdeulnya pasti juga merasa bersyukur karena sempat mengenalnya.

Beberapa saat kemudian, tirai panggung terbuka. Musik pun dimulai. Konser ini dimulai dengan “Twins (Knock Out)”. Mereka tampil bersemangat sekali demi ELF yang mereka cintai. Lalu dilanjutkan dengan “Don’t Don”

Kulihat Sakura masih menatap ke arah panggung sambil tersenyum. Tapi sepertinya dia sudah tidak tahan lagi. “Gwenchanayo, Sakura?”

Yeoja itu menatapku sambil tersenyum. “Gwenchana, Jae Oppa…” katanya berusaha meyakinkanku, namun tiba-tiba tangannya menutup mulutnya, lalu dia terbatuk-batuk.

Darah… Degh… “Oppa…” panggilnya lagi.

Aku menoleh ke arahnya. “Nde?”

“Naneun gwenchana…” katanya sambil tersenyum, kemudian pingsan.

“Ayo kita kembali ke rumah sakit!” seruku pada para perawat.

Konser segera dihentikan. Jungsoo dan dongsaengdeulnya segera menyusul ambulance yang kunaiki menuju rumah sakit. “Kumohon bertahanlah, Sakura!”

Jaejoong pov ends.

***

Jungsoo pov,

Awalnya konser berlangsung baik-baik saja. Tapi saat sekitar 3 lagu lagi menjelang selesai, kami menyaksikan dari panggung Sakura pingsan. Kumohon Sakura, bertahanlah. Ada lagu yang belum kami nyanyikan buatmu.

Air mata kami terus mengalir tanpa henti. Bahkan terdengar isakan pelan dari Sungmin dan Jongwoon, yang kutahu sulit menangis.

Kami semua sampai di rumah sakit dan menunggu di depan ICU sampai akhirnya Jaejoong keluar. “Bagaimana kondisinya, Jae?” tanyaku.

Jae tertunduk. “Sejujurnya, dia dalam kondisi yang sangat kritis… tapi, dia seolah seperti menunggu sesuatu… karena itu dia masih berjuang di sana.” katanya. “Kali ini, kuijinkan kalian ber-15 melihatnya… aku tahu, kalian pasti tahu apa yang dia tunggu dari kalian.”

“Aku tahu.” kata Wookie tiba-tiba. “Ada 1 lagu yang belum kita nyanyikan buat dia. Setidaknya, kita nyanyikan lagu favoritnya sebagai kado terakhir buat dia.”

Aku mengangguk. “Usahakan berikan yang terbaik baginya. Tahan tangis kalian.” ucapku sambil menyeka air mataku.

Kami saling mengangguk, lalu masuk ke dalam. Kulihat seorang yeoja berwajah pucat sedang berjuang untuk tetap hidup, dengan bantuan mesin-mesin di sekelilingnya. “Annyeong, Sakura…” kataku lirih. “Kami datang… kurasa, kami berhutang satu lagu untukmu. Kau mau dengar?”

“Ini lagu favoritmu, Sakura…” sahut Wookie.

Uriga mannage doen narul chugboghanun i bamun
hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo

gudeui misoga jiwojiji anhgil bareyo
onjena hengboghan nalduri gyesog doegil bilmyo

Honja jisenun bamun na gudega jakku to olla
gudeyege jonhwarul goro tujongul burinda hedo
sashil naui maumun guronge anirangol
algoinayo da algodo morunche hanun gongayo

Himdun iri idahedo gude mogsoril
jamshirado dudge doendamyon nan da idgo usul su ijyo

Guderul mannal su issodon gon hengunijyo
gyotheman issodo usul su ige mandunikkayo
gudega jo molli issodo chajul su issoyo
neane gudega misorul jidgo issunikka

Oren shigan hurumyon dathul sudo ijyo
guron nalduri ondedo byonhaji anhulkeyo

Yagsogheyo hanurare mengse halkeyo
dalbichare gido halkeyo gudel ulliji anhnundago

Uriga mannage doen narul chugboghanun i bamun
hanuren dari pyoigo byoldurun misojijyo
gudeui misoga jiwojiji anhgil bareyo
onjena hengboghan nalduri gyesog doegil bilmyo

Mon hudnal onjenga jichigo himi dunda hedo
hengboghago arumdawodon chuogul giogheyo
soroui hwawone midumul shimgo hengbogul piwo
maume yolshoeurl noege jonhe jul tenikka

Tepat setelah lagu selesai, terdengar suara ‘bib’ panjang dari mesin pendeteksi jantung. Air mata kami mengalir deras. “Sakura, Super junior mencintaimu dan kami akan terus mencintaimu.” gumamku.

Kulihat seberkas cahaya seperti Sakura menatapku dan semua memberdeul, lalu tersenyum seraya perlahan menghilang. “Sakura…”

~~ The End ~~